Rabu, 17 Agustus 2016

FROZEN (2013) : SAAT KEBEKUAN DICAIRKAN OLEH CINTA SEJATI


Sutradara                    : Chris Buck, Jennifer Lee
Pemain                        : Kristen Bell, Idina Menzel, Jonathan Groff, Josh Gad, Santino Fontana
Penulis                         : Jennifer Lee
Produser                     : Peter Del Vecho
Tahun Rilis                  : 2013
Durasi                          : 102 Menit
Genre                          : Animasi

Walt Disney Animation Studios sejak dulu memang sudah terkenal dengan berbagai film animasinya. Salah satu tema yang paling sering diangkat adalah kisah-kisah dari dongeng klasik Eropa yang notabene menceritakan tentang kehidupan seorang putri. Dengan gubahan yang sesuai dengan era kekinian, ragam film animasi bertema princess ala Disney tersebut pun dapat dinikmati berbagai kalangan tanpa harus merasa bosan.
Jelang akhir tahun 2013, Disney kembali menghadirkan film animasi bertema princess dengan judul Frozen. Kisah dalam film ini pun juga merupakan kisah adaptasi dari dongeng klasik Eropa, berjudul “The Snow Queen” karangan Hans Christian Andersen.
Frozen berkisah tentang dua orang putri dari kerajaan Arendelle, yaitu Elsa dan Anna. Berbeda dengan Anna, Elsa memiliki kemampuan sihir untuk menciptakan salju dan es. Hal tersebut disembunyikan oleh kedua orang tuanya untuk menghindari ketakutan dari rakyat. Namun isolasi tersebut berakhir saat Elsa akhirnya dinobatkan sebagai Ratu Arendelle menggantikan ayahnya.
Sayangnya hari bahagia itu berubah menjadi bencana sat Elsa tidak mampu mengontrol kemampuan sihirnya hingga membuat seluruh rakyat yang melihat menjadi ketakutan. Elsa yang panik akhirnya melarikan diri dari kerajaan menuju Gunung Utara untuk mengasingkan diri. Namun bencana belum berhenti karena Elsa, tanpa sepengetahuannya, telah menciptakan salju abadi di musim panas dan menutupi seluruh Arendelle.
Anna, adik Elsa, memutuskan untuk mencari sang kakak demi menghentikan bencana salju abadi dan mengembalikan musim panas di Arendelle. Perjalanan yang tentu saja tidak mudah.
Animasi 3D pada film ini memberikan sentuhan visual yang sangat memanjakan mata. Animasi pada film ini juga sedikit mengingatkan kita pada pada film Tangled. Mungkin karena digarap oleh orang yang sama sehingga menampilkan nuansa yang hampir serupa. Sajian grafis dan visual yang ditawarkan film Frozen lebih berwarna, utamanya dari segi karakter dan latar belakang.
Tema utama dari film ini adalah musim dingin yang menampilkan salju serba putih, tetapi Disney tetap menyajikan visual warna-warni di beberapa scene, khususnya saat musim panas. Selain itu nuansa dark juga sempat muncul saat adegan Elsa tidak mampu mengontrol kekuatannya.
Aspek musikal juga menjadi salah satu ciri khas dari film animasi Disney sejak dulu. Demikian halnya dengan film Frozen, musik dan lagu yang disusun secara apik juga turut ambil bagian untuk membuat film ini menarik. Let it Go yang merupakan lagu utama dalam film ini bahkan sempat menjadi hits. Selain itu masih banyak lagu dalam film ini yang enak untuk didengarkan dan dinyanyikan.
Meskipun didukung dengan audio visual yang sangat baik, cerita dalam ini masih terbilang biasa saja. Pasalnya tidak terdapat cerita yang ikonik dalam film ini. Berbeda dengan film animasi Disney bertema princess lainnya. Misalnya kisah gadis biasa yang menikah dengan pangeran dalam ala Cinderella atau gadis cantik yang menikah dengan pria buruk rupa ala Beauty and Beast.
Namun hal tersebut bukanlah masalah berarti karena Frozen cukup berhasil menyajikan pengembangan karakter dan kejutan-kejutan sepanjang alur cerita. Hal tersebut juga diperkuat dengan pesan moral  inti cerita yang berbeda dengan streotipe kisah dongeng pada umumnya di mana seorang putri membutuhkan pertolongan dari pangeran agar selamat. Dalam film ini justru penonton akan menemukan kisah putri yang cukup berbeda dari streotipe tersebut.
Pesan moral yang terkandung dalam film ini adalah “Cinta sejati mampu mencairkan hati yang beku”. Cinta sejati yang dimaksudkan dalam film ini lebih bersifat umum. Jika biasanya cinta sejati sejati selalu dikaitkan dengan cinta antara pria dan wanita. Maka dalam film ini cinta sejati yang dimaksud adalah cinta sejati antara kakak dan adik.


Selasa, 16 Agustus 2016

5 CM (2012): NASIONALISME DI PUNCAK MAHAMERU


Sutradara                    : Rizal Mantovani
Pemain                        : Herjunot Ali, Fedy Nuril, Pevita Pearce, Igor Saykoji, Raline Shah dan Denny Sumargo
Penulis                         : Donny Dhirgantoro
Produser                      : Sunil Soraya
Durasi                          : 125 menit
Genre                          : Drama

5 cm merupakan film yang berkisah tentang 5 sekawan yakni Zafran, Ian, Arial, Genta, dan Riani. Kelimanya telah menjalin persahabatan selama kurang lebih 10 tahun. Selama itu pula mereka selalu menghabiskan akhir pekan bersama-sama. Hingga suatu hari Genta yang merasa jenuh dengan persahabatan mereka tiba-tiba memberikan sebuah usul. Ia ingin sesuatu yang baru dan tidak biasa. Ia pun mengusulkan kepada keempat sahabatnya untuk tidak berkomunikasi sama sekali selama 3 bulan. Tiga bulan kemudian, Genta pun memberikan kejutan kepada keempat sahabatnya dengan mengajak mereka beserta Dinda, adik Arial, untuk mendaki Gunung Mahameru. Di sinilah petualangan berlanjut.
Film garapan sutradara Rizal Mantovani ini diangkat dari novel berjudul serupa karya novelis Donny Dirgantoro.  Film ini cukup menghibur dengan sentuhan komedi yang tidak berlebihan dan rapi. Tema persahabatn, cinta, dan nasionalisme berhasil dikemas secara apik hingga membuat rasa penasaran penonton membuncah. Hanya saja bagi penonton yang sudah pernah membaca novelnya mungkin akan merasa kurang puas dengan penceritaan yang kurang greget. Dialog-dialog filosofi dalam novel justru kurang ditampilkan dalam film ini. Mungkin inilah resiko dari sebuah film yang diadaptasi dari novel.
Tapi keindahan alam Indonesia yang disuguhkan dalam film ini mampu membuat penonton mengalihkan perhatian. Selain itu, tema nasionalisme dalam bentuk kecintaan terhadap alam dan bangsa Indonesia juga dikemas dengan cukup baik.  Meskipun bukan film yang luar biasa, tapi 5 cm boleh dikatakan bagus. Rizal Mantovani membuktikan bahwa sineas Indonesia mampu membuat film berkualitas dengan tema yang lain dari biasanya.



THE BILLIONAIRE (2011): AKHIR MANIS SEBUAH PERJUANGAN


Sutradara                    : Songyos Sugmakanan
Pemain                        :Pachara Chirathivat, Walanlak Kumsuwan, Somboonsuk Niyomsiri, Thanom Assawarungrueng, Karnsiree Kulkaweewut 
Produser                     : Nawapol Tumrongrattanarit
Tanggal Rilis               : 20 Oktober 2011 (Thailand)
Durasi                          : 124 Menit
Genre                          : Drama

Pernahkah Anda mengalami kegagalan? Tentunya semua orang hampir pernah merasakan kegagalan hingga membuat seolah-olah ingin menyerah. Kisah itulah yang digambarkan dalam film The Billionaire.
The Billionaire merupakan sebuah film yang diangkat dari kisah nyata seorang anak muda bernama Top Ittipat (Pachara Chirathivat). Top Ittipat merupakan seorang remaja yang berambisi besar untuk menjadi seorang pengusaha muda yang sukses. Namun untuk mewujudkan cita-citanya ia melalui banyak rintangan. Mulai dari usianya yang masih terbilang muda (19 tahun) hingga penolakan dari keluarga dan kekasihnya.
Kisah ini bermula ketika Top masih berusia 16 tahun. Top yang kecanduan game online mendapatkan keberuntungan yakni bisa menghasilkan banyak uang dari hobinya tersebut. Sayangnya bisnis tersebut tidak bertahan lama dikarenakan akun untuk bermain game online itu dihentikan sebab dianggap ilegal. Untuk bisa mendapatkan uang lagi, Top pun menjual kacang goreng ala Thailand di supermarket.
Tak berhenti sampai disitu, usaha kacang gorengnya kembali mendapatkan masalah saat pemilik supermarket membatalkan kontrak sewa karena asap dari mesin penggoreng kacang milik Top mulai mengotori atap supermarket. Masalah kian pelik saat Top mengetahui bahwa keluarganya bangkrut dan memiliki utang sebesar 40 juta Bath. Meskipun sempat terpuruk namun Top tetap bangkit dari keterpurukannya. 
Film ini menampilkan kisah yang sangat murni karena diangkat dari kisah nyata Top Ittipat, seorang pengusaha muda Thailand yang memiliki bisnis makanan ringan yakni rumput laut dengan nama Tae Kae Noi (pengusaha muda sukses). Pachara Chirathivat mampu menampilkan karakter Top yang pantang menyerah, ambisius dan keras kepala dengan sangat baik. Hanya saja karakte Top selaku tokoh utama tidak semua baik. Sikap Top yang melawan ayahnya sendiri saat ia sudah mampu mendapatkan uang dari hasil bermain game online kurang baik untuk ditiru.
Namun terlepas dari itu, film ini mampu menyuguhkan tontonan inspiratif. Beberapa petuah-petuah hebat tentang perjuangan  untuk memulai bisnis juga turut mewarnai jalannya cerita. Film ini sangat menginspirasi khususnya kaum muda untuk tidak takut terhadap apapun dan berani mengambil resiko, khususnya dalam memulai bisnis baru.
Pesan yang dapat ditarik dari kisah ini yaitu setiap usaha membutuhkan kerja keras dan perjuangan. Perjuangan terbaik adalah perjuangan tanpa kenal menyerah. Sesuai dengan pesan Top Ittipat di akhir cerita, yaitu “Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah, kalau kita menyerah maka habislah sudah.”

LA BELLE ET LA BETE (2014) : SISI KELAM DIBALIK ROMANTISME


Sutradara                    : Christophe Gans
Pemain                        : Vincent Cassel, Lea Sydoux
Produser                     : Richard Grandpierre
Tanggal Rilis               : 12 Februari 2014 (Prancis), 14 Februari 2014 (Berlin)
Durasi                          : 112 minutes
Genre                          : Fantasy/ Thriller

Entah sudah berapa kali kisah klasik Si Cantik dan Si Buruk Rupa ini diadaptasi. Kisah karangan novelis Prancis ini telah berulang kali diangkat ke layar kaca, layar lebar, panggung teater hingga animasi. Salah satu karya adaptasi yang paling popular adalah film animasi Disney tahun. Film ini bahkan menjadi film animasi pertama yang mendapatkan nominasi Best Picture di ajang Academy Award.
Jika kebanyakan kisah Si Cantik dan Si Buruk Rupa diangkat dari karangan Jeanne-Marrie Leprince de Beaumont, maka lain halnya dengan kisah di film ini yang justru diangkat dari versi Gabrielle-Suzanne Barbot de Villenueve. Dia  tercatat sebagai pengarang yang terlebih dahulu memperkenalkan kisah ini
Andre Dussollier (ayah Belle), seorang pedagang yang terjebak dalam badai besar, tanpa sengaja menemukan mansion di tengah hutan. Lalu ia memutuskan untuk beristirahat sejenak sembari menikmati sajian makanan yang tersaji di atas meja perjamuan. Setelah merasa cukup, iapun hendak melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba ia melihat sebuah Mawar di taman mansion tersebut dan tertarik untuk memetiknya. Ia bermaksud memberikan bunga itu kepada putrid bungsunya, Belle. Namun, sesosok makhluk buas (Vincent Cassel) yang tak lain adalah pemilik mansion tersebut marah dan menginginkan nyawanya sebagai pengganti dari mawar tersebut. Belle (Lea Seydoux) yang merasa tidak rela jika sang ayah menjadi tawanan rela menggantikan posisi ayahnya demi keselamatan keluarganya.
Berbeda dengan versi kebanyakan yang lebih menampilkan sisi romantis, sutradara sekaligus penulis naskah, Christophe Gans, bersama dengan Sandra Vo-Anh, justru menampilkan sisi yang lebih gelap dan kelam dari kisah yang begitu popular karena keromantisannya ini. Tentu ini merupakan nilai plus. Hanya saja hal ini tidak didukung dengan akting dari kedua tokoh utama,  Lea Seadoux dan Vincent Cassel. Keduanya tampil biasa saja sehingga membuat film yang bernuansa gelap ini cenderung membosankan.  
Meski demikian, mata penonton masih dimanjakan dengan sinematografi yang menarik. Detail pada property yang digunakan, mulai dari bangunan, kostum, hingga peralatan perang mampu memberikan kesan nyata.
La Belle Et La Bete memang merupakan satu dari sekian banyak karya adaptasi dari kisah klasik Si Cantik dan Si Buruk Rupa. Namun, keberanian Gans dan Vo-Anh yang berani tampil beda khususnya di sisi penceritaan yang lebih gelap patut diacungi jempol. Ciri khas itulah yang kemudian membuat film produksi Prancis dan Jerman ini berbeda dengan karya adaptasi lainnya. 

20 ONCE AGAIN (2015) : KETIKA KESEMPATAN KEDUA MENGHAMPIRI


Sutradara                    : Leste Chen
Pemain                        : Yang Zishan, Kuei Ya Lei, Chen Bolin, Lu Han
Rumah Produksi          : CJ E&M Film Division
Tanggal Rilis               : 8 Januari 2015 (China)
Durasi                                : 131 Menit

Masa muda memang merupakan fase dalam kehidupan manusia. Pada fase inilah manusia akan mencari jati diri dan menemukan hal-hal baru demi mencapai cita-cita. Sayangnya masa muda hanya datang sekali dalam seumur hidup. Namun apa jadinya jika seseorang yang sudah tua kembali muda karena suatu keajaiban?
Cerita itulah yang coba ditampilkan dalam film 20 Once Again. Film ini berkisah tentang seorang wanita lansia berusia 70 tahun, Shen Meng Jun (Kuei Ya Lei), yang diajak oleh keluarganya untuk tinggal di panti jompo.
Suatu hari, Meng Jun merasa sedih karena jauh dari keluarga. Akhirnya nenek tersebut berjalan-jalan tanpa tujuan yang jelas hingga dirinya tiba di sebuah studio foto. Sang nenek akhirnya masuk ke dalamnya dan berfoto. Namun keanehan terjadi saat ia keluar dari studio tersebut. Dirinya kembali muda dengan penampilan yang sangat berbeda. Ia pun bertekad untuk mewujudkan mimpinya kala ia masih muda, yaitu menjadi seorang penyanyi. Dengan nama baru yakni Meng Li Jun (Yang Zishan), ia pun mulai menunjukkan bakat bernyanyinya hingga berhasil memukau banyak pihak. Berhasilkah ia dengan misinya?
Kisah tentang film 20 Once Again memang sudah tidak asing lagi. Film ini merupakan adaptasi dari film yang berjudul Miss Granny yang berasal dari Korea Selatan. Secara keseluruhan cerita dalam film ini cukup menarik. Seorang wanita tua yang secara ajaib kembali menjadi muda menggunakan kesempatan itu untuk mengejar cita-cita masa mudanya yang tidak kesampaian untuk menjadi seorang penyanyi terkenal.
Film dengan tema seperti ini memang bukanlah yang pertama. Tahun 2008, film Hollywood berjudul 17 Again juga mengangkat tema yang sama, yakni kembali muda di usia tua. Meski demikian, film ini tetap tampil dengan gaya khas mandarin. Berbeda dengan versi Korea, Miss Granny, film 20 Once Again terkesan lebih serius dan sedikit sekali bumbu humor. Namun karakter yang dibangun oleh para tokoh cukup kuat untuk membangun alur film.
Film ini sangat pas bagi mereka yang menyukai film santai namun berkesan. Pesan yang dapat ditangkap dari film ini adalah bahwasanya setiap manusia punya hak untuk mendapatkan kesempatan kedua. Tidak peduli pada kapan dan di mana, kesempatan kedua akan selalu hadir agar manusia bisa memperbaiki kesalahan di masa lalu.